Panduan BPJS Ketenagakerjaan & Kesehatan untuk Usaha 2026: Iuran & Cara Daftar
Kewajiban BPJS bagi pemberi kerja sejak karyawan pertama: program wajib per skala usaha, tarif iuran 2026, alur pendaftaran via SIPP Online & e-Dabu, plus sanksi PP 86/2013 bila tidak mendaftar.
Tinjau terakhir 12 Juni 2026
Peta panduan 18 modul · klik untuk buka
Peta panduan
Pilar ini terdiri dari 18 panduan turunan. Ikuti urutan, atau lompat ke modul yang relevan.
- Pilar Panduan Pendirian PT, PT Perorangan & CV di Indonesia 2026
- 01 Modul 1 Cara Memilih KBLI yang Tepat & Tingkat Risiko Usaha (KBLI 2025 OSS RBA)
- 02 Modul 2 PT Perorangan vs CV vs PT: Pilih Badan Usaha & Kapan Naik Kelas
- 03 Modul 3 Modal Dasar, Domisili & Virtual Office: Aturan Alamat & Modal Usaha
- 04 Modul 4 Cara Menerbitkan NIB di OSS RBA 2026: KKPR, Lingkungan & Tingkat Risiko
- 05 Modul 5 Panduan PP 28/2025 OSS RBA: Perubahan KKPR, Lingkungan & Pengawasan 2026
- 06 Modul 6 Panduan KKPR Mendalam 2026: KKKPR vs PKKPR & Peran RDTR di OSS
- 07 Modul 7 Panduan Persetujuan Lingkungan UMKM 2026: SPPL, UKL-UPL & AMDAL via OSS
- 08 Modul 8 Panduan PB UMKU 2026: Izin Penunjang Operasional & Komersial UMKM
- 09 Modul 9 Panduan Sertifikat Halal UMK 2026: Self-Declare SEHATI via SIHALAL
- 10 Modul 10 Panduan Izin Edar Pangan UMKM 2026: SPP-IRT, BPOM MD & ML
- 11 Modul 11 Izin Edar Kosmetik, Obat Tradisional & Alkes BPOM 2026 untuk UMKM
- 12 Modul 12 Panduan SNI & Sertifikasi Wajib Produk UMKM 2026: SPPT-SNI & Bina UMK
- 13 Modul 13 Panduan Pendaftaran Merek Dagang DJKI 2026: Tarif UMK, Alur & Sengketa
- 14 Modul 14 Panduan Hak Cipta & Paten Sederhana UMKM 2026: Logo, Software & Invensi
- 15 Modul 15 Panduan PT PMA untuk WNA 2026: Modal Rp 2,5 M, ITAS Investor & LKPM
- 16 Modul 16 Multi-KBLI & Multi-Lokasi UMKM 2026: 1 NIB Banyak Cabang, NITKU & Coretax
- 17 Modul 17 LKPM 2026: Kewajiban, Jadwal, dan Cara Lapor via OSS RBA
- 18 Modul 18 Panduan BPJS Ketenagakerjaan & Kesehatan untuk Usaha 2026: Iuran & Cara Daftar
Akta pendirian beres, NIB terbit, lalu karyawan pertama mulai bekerja. Pada titik itulah satu kewajiban pasca-izin langsung aktif: mendaftarkan perusahaan dan karyawan ke BPJS KetenagakerjaanBPJS Ketenagakerjaan — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial KetenagakerjaanBadan hukum publik per UU 24/2011 yang menyelenggarakan lima program jaminan sosial tenaga kerja: JKK, JKM, JHT, JP, dan JKP. Pemberi kerja wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sesuai penahapan Perpres 109/2013; pendaftaran badan usaha dilakukan online dan pengelolaan data peserta lewat SIPP Online. dan BPJS KesehatanBPJS Kesehatan — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial KesehatanBadan hukum publik per UU 24/2011 yang menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Iuran pekerja penerima upah di badan usaha: 5% dari upah — 4% beban pemberi kerja, 1% beban pekerja — dengan batas upah tertinggi Rp 12 juta (Perpres 82/2018 jo. Perpres 64/2020)..
Kewajiban ini sering tertunda karena dianggap “urusan nanti kalau karyawan sudah banyak”. Regulasinya berkata sebaliknya. Sejak ada satu orang pekerja yang menerima upah, pemberi kerja wajib mendaftar — dan kelalaiannya bisa berujung pada penghentian pelayanan perizinan.
Peta perjalanan
Dasar hukum & kapan wajib
5 menit baca
Dua undang-undang menjadi fondasinya. UU 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menetapkan lima program jaminan sosial: jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, pensiun, dan kematian. UU 24/2011 tentang BPJS kemudian membentuk dua badan penyelenggaranya — BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan — sekaligus menegaskan kewajiban di sisi pemberi kerja.
Pasal 15 ayat (1) UU 24/2011 merumuskan kewajiban itu secara langsung: pemberi kerja wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS sesuai program jaminan sosial yang diikuti. Kata kuncinya ada dua. Pertama, “dirinya dan pekerjanya” — bukan hanya karyawan. Kedua, “wajib” — bukan pilihan.
Kapan kewajiban mulai melekat
Kewajiban pendaftaran aktif sejak badan usaha mempekerjakan pekerja dan membayar upah. Bentuk badan usahanya tidak relevan: PT persekutuan modal, PT Perorangan, CV, sampai usaha perseorangan dengan karyawan, semuanya berstatus “pemberi kerja” menurut UU 24/2011.
Peraturan pelaksananya menetapkan tenggat konkret. PP 44/2015 mewajibkan pemberi kerja mendaftarkan pekerja baru ke program JKK dan JKM paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal mulai bekerja. Pendaftaran BPJS dengan demikian masuk daftar kerja pasca-pendirian yang sama pentingnya dengan LKPMLKPM — Laporan Kegiatan Penanaman ModalLaporan rutin (triwulan untuk usaha menengah-besar, semester untuk usaha kecil) yang wajib disampaikan pemegang NIB ke OSS. Berisi realisasi investasi, tenaga kerja, dan dampak ekonomi. Pasca PP 28/2025, LKPM menjadi salah satu dari beberapa sumber data pengawasan (Pasal 240–241), bukan satu-satunya. dan kewajiban pajak — posisinya di alur lengkap dapat dilihat di Panduan Pendirian PT, PT Perorangan & CV di Indonesia 2026.
Lima program BPJS Ketenagakerjaan
8 menit baca
BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan lima program. Tiga di antaranya dibiayai bersama pemberi kerja dan pekerja, satu dibiayai penuh pemberi kerja, dan satu lagi tanpa iuran tambahan sama sekali.
| Program | Total Iuran | Beban Pemberi Kerja | Potongan Pekerja | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| JKK — Jaminan Kecelakaan Kerja | 0,24%–1,74% upah | Seluruhnya | — | 5 kelompok tingkat risiko usaha |
| JKM — Jaminan Kematian | 0,30% upah | Seluruhnya | — | Santunan kematian non-kecelakaan kerja |
| JHT — Jaminan Hari Tua | 5,7% upah | 3,7% | 2% | Tabungan, dapat dicairkan sesuai ketentuan |
| JP — Jaminan Pensiun | 3% upah | 2% | 1% | Dasar upah maksimum Rp 11.086.300 (per Maret 2026) |
| JKP — Jaminan Kehilangan Pekerjaan | 0,46% upah | Tanpa iuran tambahan | — | 0,22% APBN + 0,14% rekomposisi JKK; manfaat 60% upah × 6 bulan |
Geser tabel ke samping untuk melihat selengkapnya
Tarif JKK mengikuti kelompok risiko lingkungan kerja dalam lampiran PP 44/2015: sangat rendah 0,24% (umumnya usaha jasa dan perkantoran), rendah 0,54%, sedang 0,89%, tinggi 1,27%, dan sangat tinggi 1,74% (misalnya konstruksi berat dan pertambangan).
6,24%
Beban pemberi kerja (kantor, 4 program)
3%
Potongan dari gaji pekerja
Rp 11.086.300
Batas upah dasar iuran JP
JKP: perlindungan PHK tanpa iuran tambahan
JKPJKP — Jaminan Kehilangan PekerjaanProgram BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja yang terkena PHK: uang tunai 60% dari upah selama 6 bulan (batas upah Rp 5 juta), akses informasi pasar kerja, dan pelatihan. Diatur PP 37/2021 jo. PP 6/2025; tanpa iuran tambahan dari pemberi kerja maupun pekerja — didanai pemerintah pusat 0,22% dan rekomposisi iuran JKK 0,14%. (Jaminan Kehilangan Pekerjaan) menjadi program termuda. Setelah PP 6/2025 berlaku (7 Februari 2025), pekerja yang di-PHK menerima uang tunai 60% dari upah selama 6 bulan — naik dari skema lama 45% (3 bulan) lalu 25% (3 bulan) — dengan batas upah dasar manfaat Rp 5 juta, ditambah akses pelatihan dan informasi pasar kerja.
Sumber dananya: 0,22% dari pemerintah pusat dan 0,14% rekomposisi iuran JKK. Pemberi kerja maupun pekerja tidak membayar sepeser pun tambahan — tetapi syaratnya pekerja sudah terdaftar di program-program lain sesuai skala usahanya, berkewarganegaraan Indonesia, dan belum berusia 54 tahun.
Program wajib tidak sama untuk semua skala usaha
Perpres 109/2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial mengatur program minimum per skala usaha — berlaku sejak 1 Juli 2015:
| Skala Usaha | JKK | JKM | JHT | JP |
|---|---|---|---|---|
| Besar | Wajib | Wajib | Wajib | Wajib |
| Menengah | Wajib | Wajib | Wajib | Wajib |
| Kecil | Wajib | Wajib | Wajib | Sukarela |
| Mikro | Wajib | Wajib | Sukarela | Sukarela |
Geser tabel ke samping untuk melihat selengkapnya
Skala usaha mengacu pada kriteria modal dan penjualan tahunan PP 7/2021 — kriteria yang sama dengan penentuan status UMK di OSS. Usaha kecil yang tumbuh menjadi menengah otomatis terkena kewajiban JP; pantau posisi skala usaha setiap kali modal atau omzet melewati threshold.
BPJS Kesehatan untuk badan usaha
6 menit baca
Berbeda dengan BPJS Ketenagakerjaan yang bertahap per skala, jaminan kesehatan wajib untuk semua skala usaha — termasuk mikro. Karyawan badan usaha terdaftar dalam segmen Pekerja Penerima Upah (PPU).
Ketentuan iurannya diatur Perpres 82/2018 jo. Perpres 64/2020:
| Komponen | Ketentuan |
|---|---|
| Total iuran | 5% dari upah per bulan |
| Beban pemberi kerja | 4% |
| Potongan pekerja | 1% |
| Batas upah tertinggi | Rp 12.000.000 |
| Batas upah terendah | UMK kabupaten/kota (atau UMP bila UMK tidak ditetapkan) |
| Cakupan iuran 5% | Pekerja + pasangan sah + 3 anak (total 5 jiwa) |
| Anggota keluarga tambahan | 1% dari upah per orang, dipotong dari gaji pekerja |
| Jatuh tempo pembayaran | Paling lambat tanggal 10 setiap bulan |
Contoh hitung untuk upah Rp 6.000.000: iuran total Rp 300.000 — Rp 240.000 dibayar perusahaan, Rp 60.000 dipotong dari gaji. Satu iuran itu sudah melindungi sampai lima anggota keluarga. Anak keempat, orang tua, atau mertua dapat ditambahkan dengan iuran 1% per orang atas permintaan pekerja.
Cara daftar perusahaan
10 menit baca
Pendaftaran dua BPJS berjalan di dua kanal terpisah. Keduanya online, tanpa biaya pendaftaran, dan memakai dokumen dasar yang sama.
Mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan
Registrasi badan usaha di kanal online BPJS Ketenagakerjaan
Buka situs resmi bpjsketenagakerjaan.go.id, pilih menu pendaftaran peserta untuk kategori Pemberi Kerja/Badan Usaha. Masukkan email perusahaan yang aktif, ikuti tautan aktivasi yang dikirim, lalu isi formulir data badan usaha — legalitas, alamat, jumlah pekerja, dan kode bidang usaha yang menentukan kelompok tarif JKK.
Terima NPP dan tetapkan program sesuai skala usaha
Setelah verifikasi disetujui, perusahaan menerima NPPNPP — Nomor Pendaftaran PerusahaanNomor identitas badan usaha sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, terbit setelah registrasi perusahaan disetujui. NPP menjadi kunci akses SIPP Online dan wajib dicantumkan saat pembayaran iuran serta pelaporan data pekerja. (Nomor Pendaftaran Perusahaan). Program yang diikuti mengikuti skala usaha pada Perpres 109/2013 — usaha kecil minimal JKK + JKM + JHT; menengah dan besar ditambah JP.
Aktifkan akun SIPP Online dan input data pekerja
Buat akun di SIPP OnlineSIPP Online — Sistem Informasi Pelaporan Perusahaan BPJS KetenagakerjaanPortal resmi sipp.bpjsketenagakerjaan.go.id untuk perusahaan peserta BPJS Ketenagakerjaan: tambah/nonaktifkan pekerja, mutakhirkan data upah, hitung iuran bulanan, dan unduh kode bayar. Akun dibuat dengan NPP dan email perusahaan. (sipp.bpjsketenagakerjaan.go.id) menggunakan NPP dan email perusahaan. Input data seluruh pekerja: NIK, tanggal mulai kerja, dan upah yang dilaporkan. Upah yang diinput menjadi dasar perhitungan iuran sekaligus dasar manfaat — melaporkan upah lebih rendah dari kenyataan merugikan pekerja dan termasuk pelanggaran.
Bayar iuran pertama sebelum tanggal 15
SIPP menghitung total iuran dan menerbitkan kode bayar. Pembayaran dilakukan lewat bank/kanal pembayaran yang bekerja sama, paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya (PP 44/2015). Kepesertaan pekerja aktif setelah iuran pertama lunas — kartu digital dapat diakses pekerja lewat aplikasi JMO.
Mendaftar ke BPJS Kesehatan
Registrasi badan usaha baru secara online
Akses kanal pendaftaran badan usaha BPJS Kesehatan (menu Pendaftaran Badan Usaha di situs bpjs-kesehatan.go.id, terhubung ke aplikasi e-Dabu). Pilih registrasi badan usaha baru, isi formulir, dan lampirkan izin usaha (NIB) serta NPWP badan.
Aktivasi akun e-Dabu
BPJS Kesehatan mengirim email berisi kode badan usaha, nomor rekening virtual account untuk pembayaran, serta tautan aktivasi akun e-Dabu (Elektronik Data Badan Usaha) — aplikasi untuk mengelola seluruh kepesertaan karyawan.
Input data karyawan dan anggota keluarga
Di e-Dabu, tambahkan peserta satu per satu atau secara massal: NIK, data keluarga (pasangan dan maksimal 3 anak dalam cakupan iuran 5%), upah, dan fasilitas kesehatan tingkat pertama pilihan masing-masing karyawan. Karyawan yang sudah punya kepesertaan mandiri dialihkan segmennya di tahap ini.
Bayar iuran kolektif sebelum tanggal 10
Tagihan terbit kolektif untuk seluruh karyawan ke virtual account badan usaha. Jatuh tempo tanggal 10 setiap bulan; keterlambatan membuat status kepesertaan nonaktif sementara sampai tunggakan lunas — kartu karyawan tidak bisa dipakai berobat selama nonaktif.
Sanksi bila tidak mendaftar
5 menit baca
Sanksi pelanggaran kewajiban pendaftaran diatur PP 86/2013. Bentuknya administratif dan berjenjang — tetapi jenjang terakhirnya menyentuh hal paling vital bagi badan usaha: akses ke pelayanan perizinan.
| Jenjang | Sanksi | Ketentuan | Pemberi Sanksi |
|---|---|---|---|
| 1 | Teguran tertulis | Maksimal 2 kali, masing-masing untuk jangka waktu paling lama 10 hari kerja | BPJS |
| 2 | Denda | 0,1% per bulan dari iuran yang seharusnya dibayar, dihitung sejak teguran kedua berakhir | BPJS |
| 3 | Tidak mendapat pelayanan publik tertentu | Perizinan terkait usaha, izin mengikuti tender proyek, izin mempekerjakan TKA, izin perusahaan penyedia jasa pekerja, IMB/PBG | Pemerintah/pemda atas permintaan BPJS |
Geser tabel ke samping untuk melihat selengkapnya
Jenjang ketiga itulah yang mengaitkan kepatuhan BPJS langsung ke ekosistem perizinan. Badan usaha yang mengejar tender pemerintah, mengurus izin baru di daerah, atau berencana mempekerjakan tenaga kerja asing dapat tertahan oleh rekomendasi penghentian pelayanan publik akibat status BPJS yang tidak beres.
Ada pula lapisan pidana. UU 24/2011 mengancam pemberi kerja yang memungut iuran dari gaji pekerja tetapi tidak menyetorkannya ke BPJS dengan pidana penjara sampai 8 tahun atau denda sampai Rp 1 miliar (Pasal 55) — pelanggaran yang dikategorikan sebagai kejahatan, bukan sekadar kelalaian administratif.
Usaha mikro & pekerja mandiri
5 menit baca
Regulasi memberi ruang penyesuaian bagi lapisan usaha terkecil — bukan pembebasan, melainkan paket kewajiban yang lebih ringan.
Usaha mikro: minimal dua program
Per Perpres 109/2013, usaha mikro wajib mengikutkan pekerjanya minimal pada JKK dan JKM. Dengan tarif JKK kelompok risiko terendah, beban per pekerja hanya 0,54% dari upah (0,24% + 0,3%) — untuk upah Rp 2.000.000 berarti sekitar Rp 10.800 per bulan per orang. JHT dan JP boleh ditambahkan secara sukarela. BPJS Kesehatan 5% tetap wajib.
Pekerja bukan penerima upah (BPU)
Pemilik usaha tanpa karyawan, freelancer, pedagang, pengemudi ojek online, petani, dan pekerja informal lain tidak punya “pemberi kerja” yang mendaftarkan mereka. Jalurnya adalah kepesertaan BPU di BPJS Ketenagakerjaan — mendaftar dan membayar sendiri:
| Program | Iuran | Sifat |
|---|---|---|
| JKK | 1% dari penghasilan yang dilaporkan (minimal Rp 10.000/bulan) | Wajib bagi peserta BPU |
| JKM | Rp 6.800/bulan | Wajib bagi peserta BPU |
| JHT | 2% dari penghasilan (minimal Rp 20.000/bulan) | Pilihan |
Geser tabel ke samping untuk melihat selengkapnya
Dengan dasar penghasilan Rp 1.000.000, dua program wajib hanya Rp 16.800 per bulan; tiga program sekitar Rp 36.800. Pendaftaran tersedia di laman BPU bpjsketenagakerjaan.go.id, aplikasi JMO, kantor cabang, agen Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai), serta Kantor Pos. Manfaatnya setara peserta penerima upah — termasuk perawatan kecelakaan kerja tanpa batas biaya sesuai indikasi medis.
Penutup
Kepesertaan BPJS bukan sekadar pos biaya 10–11% di atas gaji. Ia adalah syarat legalitas yang terhubung langsung ke pelayanan perizinan, jaring pengaman finansial saat terjadi kecelakaan kerja atau PHK, dan salah satu indikator paling cepat dilihat mitra maupun calon karyawan untuk menilai keseriusan sebuah perusahaan.
Situasi yang layak didampingi profesional: perusahaan dengan tunggakan iuran lama yang ingin dipulihkan, restrukturisasi karyawan lintas badan usaha, serta usaha yang skala atau struktur upahnya berubah signifikan di tengah tahun. Konsultan SDM atau konsultan perizinan yang terbiasa menangani kepesertaan BPJS dapat membantu menata ulang tanpa memicu sanksi.
Langkah selanjutnya
Setelah kepesertaan BPJS berjalan, lengkapi kewajiban pasca-izin lain: pelaporan kegiatan penanaman modal di LKPM 2026: Kewajiban, Jadwal, dan Cara Lapor via OSS RBA. Bila usaha masih dalam tahap memilih bentuk badan, perbandingan lengkapnya ada di PT Perorangan vs CV vs PT: Pilih Badan Usaha & Kapan Naik Kelas. Peta kewajiban menyeluruh dari pendirian sampai operasional tersedia di Panduan Pendirian PT, PT Perorangan & CV di Indonesia 2026.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah PT Perorangan tanpa karyawan wajib daftar BPJS sebagai badan usaha?
Karyawan sudah punya BPJS Kesehatan mandiri — apakah perusahaan tetap wajib mendaftarkan?
Apakah boleh ikut BPJS Kesehatan saja tanpa BPJS Ketenagakerjaan?
Berapa total potongan BPJS dari gaji karyawan setiap bulan?
Apakah karyawan kontrak (PKWT) dan paruh waktu wajib didaftarkan?
Apa risiko nyata kalau usaha kecil menunda pendaftaran BPJS?
Pemilik atau direktur perusahaan ikut didaftarkan juga?
Tag
Panduan lain dari Perizinan
LKPM 2026: Kewajiban, Jadwal, dan Cara Lapor via OSS RBA
Kewajiban LKPM pasca PP 28/2025: siapa wajib lapor, jadwal semester vs triwulan, konten laporan, cara submit di OSS RBA, dan sanksi pelanggaran. Panduan pasca-izin untuk usaha kecil, menengah, dan PMA.
Multi-KBLI & Multi-Lokasi UMKM 2026: 1 NIB Banyak Cabang, NITKU & Coretax
Aturan multi-KBLI dalam 1 NIB, KBLI 46 vs 47 wajib pisah, KKPR per koordinat (1 perusahaan 50 lokasi = 50 KKPR), NPWP cabang dihapus diganti NITKU pasca PMK 136/2023 + Coretax.
Panduan Hak Cipta & Paten Sederhana UMKM 2026: Logo, Software & Invensi
Mencatatkan logo, software & konten via e-Hak Cipta DJKI (Rp 200rb flat). Plus Paten Sederhana per UU 65/2024 untuk invensi UMKM: tarif UMK Rp 200rb, proses 6 bulan, masa berlaku 10 tahun.